Minggu, 04 Juli 2010

all about batik..


Sejarah Perkembangan Batik di Indonesia

Batik yang termasuk kategori seni visual(seni rupa yang tidak bergerak) merupakan kesenian asli bangsa Indonesia dan turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia sejak abad 17 M, namun batik diketahui sudah ada di Indonesia sejak 1000 SM. Pada awalnya batik hanya digunakan oleh para keluarga keraton dan pejabat di dalamnya di Pulau Jawa khususnya Jogjakarta dan Surakarta(Solo), mereka menggunakannya hanya untuk pakaian resmi, tidak seperti model pakaian batik zaman sekarang yang sudah disesuaikan dengan perubahan zaman. Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Walaupun ada seorang peneliti dari luar negeri menyatakan bahwa batik di Indonesia berasal dari India, tetaplah seluruh warga dunia sudah mengetahui sendiri bahwa batik memang warisan budaya bangsa Indonesia. Karena adanya Jalur Sutra maka terjadilah pertukaran budaya, Orang-orang India memang dulu membuat batik seperti halnya masyarakat Jawa karena bagi mereka batik adalah trend pakaian pada saat itu, tetapi beberapa waktu kemudian trend itu lenyap dengan sendirinya seiring perkembangan zaman, namanya juga “trend” maka sesuatu harus disesuaikan dengan majunya zaman agar tidak terlihat kuno(ketinggalan zaman).
Batik termasuk salah satu jenis pakaian adat khususnya untuk daerah Jawa, jenis pakaian selain batik adalah songket, ulos, dsb. Yang berasal dari luar Jawa. Namun, ciri khas masyarakat Jawa sebelumnya yaitu kain(benang yang ditenun) yang tidak diwarnai(putih murni). Setelah kain tadi diberi pola selanjutnya kain diberi warna sesuka hati mereka. Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.
Batik yang dulu hanya boleh digunakan oleh keluarga raja termasuk kalangan petinggi kerajaan, tetapi saat ini masyarakat Indonesia bahkan warga dunia pun boleh mengenakannya tanpa melihat status sosial masing-masing individu. Batik yang dapat berkembang pesat di luar lingkungan keraton bermula ketika para abdi dalem keraton juga mencoba membuat batik tetapi kala itu mereka diperbolehkan membuat batik dengan beraneka macam warna. Hingga saat ini batik telah menjadi warisan dunia dan ditetapkannya hari Jumat adalah hari batik di Indonesia pertanda bahwa batik adalah simbol dari beribu macam simbol kekayaan budaya bangsa Indonesia. Saat ini, motif dan warna kain batik juga disesuaikan dengan perkembangan zaman agar tidak lenyap begitu saja, seperti di India, tanpa harus mengurangi nilai seni budaya(batik) warisan nenek moyang bangsa Indonesia.
Secara umum proses pembuatan batik melalui 3 tahapan yaitu pewarnaan, pemberian malam(lilin) pada kain dan pelepasan lilin dari kain. Kain putih yang akan dibatik dapat diberi warna dasar sesuai selera kita atau tetap berwarna putih sebelum kemudian di beri malam. Proses pemberian malam ini dapat menggunakan proses batik tulis dengan canting tangan atau dengan proses cap. Pada bagian kain yang diberi malam maka proses pewarnaan pada batik tidak dapat masuk karena tertutup oleh malam (wax resist). Setelah diberi malam, batik dicelup dengan warna. Proses pewarnaan ini dapat dilakukan beberapa kali sesuai keinginan, berapa warna yang diinginkan. Batik yang telah jadi direbus hingga malam menjadi leleh dan terlepas dari air. Setelah perebusan selesai, batik direndam air dingin dan dijemur.                                     
A.    Jenis batik
è Berdasarkan daerah asal
1.      Pedalaman
Daerah Jogjakarta dan Solo termasuk ke dalam kategori batik pedalaman karena pusat budaya lama berada di sekitar area tersebut.
Ciri khas:
-          Simbolis/Dekoratif(parang, lar, sawat, dan masih banyak lainnya)
-          Warnanya terlihat aristokrat(coklat, putih, hitam)
2.      Pesisir
Daerah selain Jogja dan Solo(Pekalongan, Cirebon, Indramayu, Madura, dan sebagian wilayah Sumatra).
Ciri khas:
-          Naturalis(alami/meniru motif alam: bunga, burung, daun-daunan, rusa, gajah, dan sebagainya)
-          Warnanya lebih cerah
-          Tumpal

è Berdasarkan cara pembuatannya

1.         Batik tulis, batik yang dibuat secara manual dari awal(membuat motif dan mencanting) hingga akhir(diwarnai). Proses waktu yang dibutuhkan untuk membuat batik jenis ini sekitar 2-3 bulan tergantung motif pada kain.
2.         Batik cap, batik jenis ini dibuat menggunakan cap dengan berbagai jenis motif yang sudah ada, mencap disini maksudnya adalah menempelkan cap bermotif yang sudah dicelupkan kedalam “malam” sebelumnya di atas kain yang dibawahnya dialasi oleh busa. Sementara itu, waktu yang dibutuhkan untuk membuat batik jenis ini lebih singkat dan efisien.

B.     Jenis kain batik

Jenis bahan kain yang digunakan untuk membuat batik bermacam-macam, seperti  Sutra, katun, rayon, dan terkadang agar penampilannya terkesan menarik, kain batik yang sudah jadi juga bisa ditambahkan hiasan seperti benang emas, payet, dll.(aplikasi prada)

C.     Macam motif batik
Motif yang dimasukkan dalam kain batik dan digunakan sebagai hiasan gambar ada berbagai pola, uniknya pola-pola motif tersebut sesuai kreativitas masing-masing pembuat batik sehingga motif yang dihasilkan pun beragam bentuknya terutama pada jenis batik pesisir. Motif di setiap daerah juga punya kunikan tersendiri, bahkan setiap motif pada daerah tertentu memiliki makna filosofis yang dalam.
Contoh motif pada kain batik(pedalaman dan pesisir):
-          Burung hong dan api-apian (Jogja)
-          Ukel elar
-          Sekar jagat (Jogja dan Tulung agung)
-          Parang rusak(Jogja, aplikasi prada dengan penambahan hiasan payet pada kain)
-          Buketan(Pekalongan)
-          Lereng buketan(Banyumas)
-          Daun keladi(Garut)
-          Terang bulan(Indramayu)
-          Lokcan(bahan sutera, pesisir utara Bekasi)
-          Lokcan(bahan katun, Cirebon)
-          Singa barong(Cirebon)
-          Satowana(Banyumas)
-          Nusa Jelita(bahan organdi, Jogja)
-          Sawat dan bidadari(Cirebon)
-          Aduh manis(Garut)
-          6 bunga kantil(Tuban)
-          Tambal(Jatim)
-          Malaya(Madura)
-          Geometris(Tuban)
-          Limasan/belah ketupat(Madura)
-          Truntum (Jogja)
-          Udhan liris (Jogja)
-          Cakar ayam
-          Ceplok Blah Kedhaton(Jogjakarta), dan masih banyak lainnya.



D.    Bahan pewarna pada kain batik
Pewarna yang dapat digunakan pada kain batik ada dua macam, pewarna alami dan buatan(kimiawi). Pewarna alami biasanya berasal dari bagian-bagian tertentu dari pohon(kulit batang, daun, biji buah, buah, kulit buah, kulit akar) sedangkan pewarna buatan dapat ditemui di sejumlah swalayan/toko-toko tertentu.
Contoh-contoh pewarna alami:
-          Pohon Jambe/Pinang (yang digunakan untuk pewarna adalah buahnya yang akan menghasilkan warna coklat)
-          Pohon Mangga(yang digunakan untuk pewarna adalah daunnya yang akan menghasilkan warna hijau)
-          Pohon Mengkudu(yang digunakan untuk pewarna adalah kulit akar yang akan menghasilkan warna merah)
-          Pohon Nangka(yang digunakan untuk pewarna adalah batangnya yang akan menghasilkan warna kuning, dan daunnya menghasilkan warna hijau)
-          Pohon Randu(yang digunakan untuk pewarna adalah daunnya yang akan menghasilkan warna abu-abu)
-          Pohon Jati Belanda(yang digunakan untuk pewarna adalah daunnya yang akan menghasilkan warna merah brownies)
-          Pohon Ketapang Kebo(yang digunakan untuk pewarna adalah daunnya yang akan menghasilkan warna Coklat  kekuningan)
-          Pohon Ulin(yang digunakan untuk pewarna adalah daunnya yang akan menghasilkan warna coklat dan abu-abu)
-          Pohon Puring(yang digunakan untuk pewarna adalah daunnya yang akan menghasilkan warna ungu)
-          Pohon Kesumba(yang digunakan untuk pewarna adalah biji buahnya yang akan menghasilkan warna oranye)
-          Pohon Jambu Biji(yang digunakan untuk pewarna adalah daunnya yang akan menghasilkan warna hijau tua)
-          Pohon Alpukat(yang digunakan untuk pewarna adalah kulit buahnya yang akan menghasilkan warna hijau kecoklatan)
-          Pohon Andong(yang digunakan untuk pewarna adalah daunnya yang akan menghasilkan warna hijau)
-          Pohon Lobi-lobi(yang digunakan untuk pewarna adalah buahnya yang akan menghasilkan warna abu-abu)
-          Pohon Trengguli(yang digunakan untuk pewarna adalah biji buahnya yang akan menghasilkan warna coklat)
-          Pohon Mahoni(yang digunakan untuk pewarna adalah kulit batangnya yang akan menghasilkan warna coklat)


               
                           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar